Reportase Hari Ke 2

Pra LKMA 2017
Tour de Java : Exploring National University & Centre of Excellence
19 - 30 Maret 2017

Catatan hari ke-2
Selasa, 21 Maret 2017

Dari Nuruzzaman ke Manarul Ilmi

Alhamdulillah... Muhteşem... Allahuakbar... Evet!!!

Hari baru, semangat baru. Sekitar jam 3 pagi delegasi Pra LKMA 2017 sudah memulai aktivitasnya kembali. Di hari kedua ini delegasi mengawali hari dengan shalat tahajud seperti biasanya dan juga bersih diri. Tak lupa shalat subuh berjamaah di Masjid Nuruzzaman Universitas Airlangga. Di Masjid inilah, selama dua hari ini kami menginap. Tamu yang dimuliakan. Masya Allah...

Selepas shalat subuh, delegasi yang akan tampil di  hari kedua ini melakukan gladi bersih sesuai dengan yang dicontohkan oleh trio manstap guru-guru pendamping kami : Ust Anas, Mr Badri, dan Pak Ahdati. Lalu dilanjutkan dengan briefing dan penyerahan amanah CoD hari ini dari Muhammad Fikruddin Aslam kepada Hanif Hidayaturrahman. CoD pendamping juga diserahterimakan dari Pak Badri ke Ustadz Anas. Sungguh hari yg lebih semangat dari hari kemarin.

Alhamdulillah,kami masih bisa shalat dhuha.  Tepat pukul 07.30 delegasi bersegera menuju kampus berikutnya, ITS (Institut Teknologi Sepuluh November).

Di ITS ini, tepatnya di Auditorium Gedung Pasca Sarjana, sesi yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Jika pada hari sebelumnya Mr Ahmad Subadri yang mewakili pembina untuk menyampaikan sambutan, saat ini adalah giliran Ust Choirul Anas sebagai perwakilan pembina. Setelah itu, delegasi yang diwakili oleh ananda Fadhil Athallah dan Nur M. Abduh melakukan presentasi yang dimoderatori oleh Lunetta Naurah dan Zhafira Zafarina. Dan di akhir presentasi, kedua ananda presentator memberikan kejutan berupa pantun berbahasa jawa. Terutama ananda Fadhil yang notabenenya tidak bisa berbahasa jawa. Sesi selanjutnya  langsung ke sesi diskusi tentang kampus bersama Dr. Siti Mahmudah sebagai Humas ITS. Beliau mengatakan bahwa benar kalau banyak komentar yang mengatakan bahwa adik-adik ini sudah seperti mahasiswa tingkat terakhir, dan ITS membutuhkan mahasiswa seperti ini. Setelah itu, delegasi mengeksplor kampus ITS. Dilanjutkan dengan shalat dhuhur berjama'ah yang dijama' dengan ashar di Masjid Manarul Ilmi. Selepas shalat, delegasi menyempatkan untuk istirahat sejenak dengan suhu siang hari di Surabaya yang tak kalah panasnya dengan Jakarta.

Sekitar pukul 13.00, delegasi kembali ke auditorium untuk melanjutkan kegiatan presentasi dan diskusi dengan mahasiswa berprestasi dan aktivis dakwah dari ITS. Mereka adalah Muhammad Shulhan Khairy, M.Kom dan mahasiswa semester 2 di fakultas desain interior mas Wahyu Putro Utomo.

Dengan duo MC Muhamad Aldi Firmansyah dan Muhammad Afdhalul Ikhsan dan trio manstap presentator Shadilla, Girry, dan Hanifa TN). Kalau di Unair tantangannya berupa pengurangan personel, maka di ITS tantangannya adalah berpresentasi tanpa slide. Dan Alhamdulillah, mereka berhasil berpresentasi dengan baik. Dilanjutkan dengan sesi diskusi, banyak pesan dan tips yang delegasi dapatkan. Salah satunya adalah jangan sampai kita terikat karena perasaan, tapi kita harus terikat karena pemikiran/aqidah. Sesi diskusi ini ditutup dengan guyuran hujan rintik-rintik khas Surabaya. Delegasi pun kembali mengeksplor kampus. Dan untuk kali ini, mereka mengunjungi sebuah pabrik sekaligus _show room_ yang dimiliki oleh ITS bernama MOLINA (Mobil Listrik Nasional). Di sana mereka disuguhkan dengan berbagai mobil sekaligus motor listrik hasil tangan mahasiswa yang ternyata juga aktivis dakwah. Salah satu mobil listrik yang bernama Widhya Wahana merupakan mobil listrik peringkat ke-7 dunia pada perlombaan di Austrlia.

Selesai mengeksplor kampus yang kedua, delegasi langsung menuju Masjid Manarul Ilmi dan melaksanakan shalat maghrib dan isya' yang dilanjutkan makan malam sembari menunggu bis datang. Dan ketika bis sudah datang, semua delegasi bersegera untuk kembali ke Masjid Nuruzzaman untuk mengambil koper dan berangkat ke Stasiun Gubeng. Meski ada sedikit masalah ketika tiba di stasiun, para delegasi yang mulai lelah tetap menunjukkan semangat perjuangan seorang penakluk turki. Dan delegasi pun rela menunggu kurang lebih 2 jam menantikan kereta tengah malam yang akan mengantarkan mereka ke kota Malang.

Sugeng pinanggih malih kutho Suroboyo, Sugeng tindak dateng Malang...